Oleh :
JAKARTA - Sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB (HME ITB) membangun dan mengembangkan pembangkit tenaga listrik untuk dua desa di daerah Garut, Jawa Barat.
Proyek tersebut dipamerkan ITB dalam ajang Pameran Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2010 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.
Dua mahasiswa ITB yang menjaga stan, Ditto Firdaus M dan Ryan Triadhi Tama menerangkan, program pengadaan listrik tersebut merupakan program HME ITB yang berjalan sejak tahun lalu. Tujuan program ini adalah memberdayakan desa berbasis energi terbarukan.
"Awalnya kami kesulitan memilih tempat untuk program ini. Tapi ketika itu kami dapat informasi dari penjual mi ayam di kampus bahwa desa asalnya di Garut belum teraliri listrik. Setelah kami lakukan survai, ternyata lokasi tersebut cocok untuk program ini," papar Ditto kepada okezone, Kamis, (24/6/2010).
Program pengadaan listrik ITB terbagi menjadi dua bagian. Proyek awal mencakup desa dengan luas wilayah hingga empat rukun tetangga (RT) dan terdiri dari sekira 80 kepala keluarga (KK). Proyek ini memanfaatkan tenaga air yang digerakkan turbin untuk menghasilkan listrik.
"Hasil akhir listrik dalam proyek pertama sebesar 2,5 kilowatt. Pasokan listrik ini kemudian dimafaatkan untuk penerangan rumah dan masjid di desa Mekarwangi, Garut," jelas Ditto.
Ditambahkan Ditto, proyek kedua di Desa Awilega, Garut, menggunakan sinar matahari sebagai sumber tenaga. Dalam proyek kedua, cakupan area yang teraliri listrik lebih besar yaitu mencapai 196 KK. Namun, listrik yang dihasilkan justru lebih sedikit, hanya satu kilowatt.
Meski begitu, di proyek kedua ini ada pengembangan penggunaan listrik yang dihasilkan. "Bukan hanya sebagai penerangan rumah dan masjid, tetapi juga kami arahkan untuk pengembangan usaha seperti peternakan ayam, pembangunan rumah kaca, atau pemberdayaan rumah baca bagi masyarakat," imbuh mahasiswa angkatan 2006 ini.
Dengan sistem seperti ini, masyarakat diarahkan untuk mengembangkan diri dan perekonomian secara swadaya. Hasil peternakan nantinya dimanfatkan untuk biaya pemeliharaan instalasi pembangkit listrik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
Diakui Ditto dan Ryan, kendala yang dihadapi saat awal peluncuran proyek, yaitu pencarian sponsor. Total biaya yang dikeluarkan untuk kedua proyek ini masing-masing sebesar Rp140 juta. "Untungnya, ada salah satu perusahaan dalam bidang energi yang sejalan dengan misi kami, puas melihat hasil kerja kami pada proyek pertama, jadi tertarik membantu," imbuh Ryan.
Selain kesulitan mencari sponsor, ada juga kesalahpahaman tentang proyek ini di desa setempat. "Masyarakat mengira hanya desa tertentu yang akan dialiri listrik, padahal saat itu pembangunan instalasi pembangkit listrik belum selesai sehingga belum menjangkau desa lainnya," tutup Ditto.
(rhs)











